Awalnya dimulai dari Kerajaan Jampu merupakan Wilayah dari Kerajaan Bone, Rajanya yang terkenal adalah Banranga Petta Jampu. Selanjutnya Penduduk Kerajaan Jampu turun ketempat rendah/Maliung (asal mula nama LIU) di pinggir Danau Tempe berkebun. Selanjutnya Liung/Liu terbentuk menjadi sebuah Kerajaan kecil, dengan Wilayanya terbagi dari beberapa Kampung, diantaranya Kampung Toddasalo. Kerajaan Liu Yang dulunya berbentuk distrik berubah Wanua Liu. Perkembangan selanjutnya, karena Kerajaan Wajo telah terbentuk maka Kerajaan Jampu masuk dalam wilayah Kerajaan Wajo, yang dulunya merupakan Wilayah Bagian dari Kerajaan Bone, sehingga Kerajaan Jampu terpecah menjadi beberapa Kerajaan kecil/Akkarungen Biccu yang merupakan wilayah dari Kerajaan Wajo/Akkarungeng Wajo diantaranya :
- Kerajaan Ugi
- Kerajaan Liu
- Kerajaan Wage
- Kerajaan Canru
Hingga pada masa jamam Kemerdekaan Kerajaan-Kerajaan kecil tersebut berubah status menjadi Wanua kemudian Desa Gaya Baru sampai Desa, dan tiap Wanua terdiri dari beberapa Kampung. Kampung Toddasalo merupakan Wilayah dari Wanua Liu. Pada tahun 1992 Desa Liu di mekarkan menjadi 2 Desa yaitu Desa Liu dan Desa Worongnge Pada Tahun 1993 Desa Liu dimekarkan menjadi Dua Desa yaitu Desa Liu dan Desa Tadangpalie (Kampung Toddasalo) dan Desa Worongnge dimekarkan menjadi 2 yaitu Desa Worongnge dan Desa Bila
Desa Tadangpalie pada mulanya adalah sebuah Dusun yang berada dibawah pmerintahan Desa Liu. Dusun tersebut bernama Dusun Toddasalo yang dipimpin oleh seorang Kepala Dusun yang bertanggung jawab kepada Kepala Desa Liu. Pada Tahun 1992 Desa Liu dimekarkan menjadi 2 Desa yaitu Desa Liu dan Worongnge . pada tahun 1993 Desa Liu dimekarkan lagi menjadi 2 Desa yaitu Desa Liu dan Desa Tadangpalie . Desa Liu dengan wilayah seluruh Dusun Bottoulu dan Seluruh Wilayah Dusun Toddasalo menjadi Desa persiapan Tadangpalie. Hal ini disebabkan karena pelayanan kepada masyarakat dinilai oleh masyarakat dan pemerintah agak lambat mengingat jauhnya jarak Dusun Toddasalo dari pusat pemerintahan Desa Liu. Desa persiapan Tadangpalie menjadi Desa definitif pada tahun 1995 . Nama Desa Tadangpalie berasal dari bahasa bugis “ Tadangpali” yang berarti diapit atau disanggah oleh dua buah benda pada kedua ujungnya. Desa Tadangpalie diapit oleh 2 Sungai , sebelah barat dengan sungai Walennae dan sebelah timur dengan sungai Manyilong. Hal ini yang mendukung pemakaian Nama “ Tadangpalie” adalah keyakian masyarakat yang mempercayai adanya buaya jelmaan dari manusia yang bernama Andi Makkateru dan Andi Mangkona yang sangat diagungkan oleh masyarakat setempat. Masyarakat sering memberikan persembahan (sesajian) kepada Buaya tersebut. Pada saat diberikan persembahan, buaya tersebut muncul dipermukaan air untuk menerima sesajian tersebut dalam keadaan melintang di sungai, kepalanya berada dipinggir sungai sebelah barat dan ekornya dipinggir sungai sebelah timur sehingga hal itu di sebut “ Tadang Wali-Wali atau disingkat “ Tadangpali”. Kedua hal itu yang melatarbelakangi pemakaian nama Tadangpalie sebagai nama Desa. Pemerintahan Desa Tadangpalie yang pertama dipimpin oleh Panguriseng mulai tahun 1993 sampai 2008 dan digantikan oleh Hj. St Marika mulai tahun 2008 sampai tahun 2014 dan pada tahun 2015 dipimpin kembali oleh Panguriseng sampai tahun 2021 yang merupakan periode ke 3 ( Tiga). Pada tahun 2024 ini di pimpin oleh Hj St Marika untuk periode kedua hingga tahun 2029